Pengertian Koperasi Pekerja

Pengertian Koperasi Pekerja

Koperasi Pekerja

Koperasi Pekerja – Satu jenis koperasi yang belum dikenal di  negara kita adalah koperasi yang disebut sebagai “worker cooperative”, sering juga disebut “worker owned cooperative”,  atau “worker owned business”.  Secara harfiah, worker cooperative  artinya koperasi pekerja atau koperasi karyawan. Akan tetapi pengertian worker cooperative bukanlah seperti koperasi pekerja,  koperasi karyawan atau koperasi pegawai sebagaimana yang kita kenal di Indonesia,  yaitu koperasinya para pekerja di pabrik, karyawan perusahaan atau pegawai pada instansi pemerintah.

Pengertian Koperasi Pekerja

Koperasi Pekerja adalah koperasi yang dimiliki dan secara demokratis dikontrol oleh “pekerja-pemiliknya”. Tidak ada pemilik luar dalam koperasi pekerja “murni”, hanya pekerja yang memiliki bagian (Saham) kepemilikan bisnis tersebut.

Meski dalam bentuk hibrida, sang konsumen, anggota masyarakat atau Investor kapitalis juga memiliki bagian (saham) kepemilikan. Dalam praktiknya, kontrol oleh pekerja-pemilik dapat dilaksanakan melalui kepemilikan individual, kolektif, atau mayoritas; atau penggunaan hak pilih individu, kolektif, atau mayoritas (melalui prinsip satu anggota satu suara).

Bagaimanapun, koperasi pekerja memiliki karakteristik mayoritas tenaga kerjanya memiliki saham kepemilikan, dan mayoritas saham kepemilikan dimiliki oleh tenaga kerja. Keanggotaan tidak selalu bersifat wajib bagi pekerjanya, tapi secara umum hanya pekerja yang dapat menjadi anggota baik secara langsung (sebagai pemegang saham) atau tidak langsung melalui keanggotaan perwalian yang memiliki perusahaan.

Dampak Ideologi Politik Dalam Praktiknya Dapat Membatasi Perkembangan Koperasi di Berbagai Negara

Di India, terdapat bentuk koperasi pekerja yang menuntut kewajiban keanggotaan bagi semua pekerjanya dan kewajiban bekerja bagi semua anggota. Bentuk tersebut terdapat dalam Rumah Kopi India.

Di tempat seperti Britania Raya, kepemilikan umum (kepemilikan kolektif tak terpisahkan) populer pada 1970-an. Perkumpulan Koperasi baru menjadi legal di Britania setelah disahkannya Stanley’s Act pada 1852.

Pada 1865 terdapat 651 perkumpulan terdaftar dengan total keanggotaan mencapai 200.000 orang. Sekarang, terdapat lebih dari 400 koperasi pekerja di Britania, Suma (Wholefoods) menjadi adalah koperasi pekerja terbesar disana dengan omset sebesar £24 juta Pound sterling.

Download Aplikasi Koperasi Simpan Pinjam Coba Gratis, Klik Disini !!

Sejarah Koperasi Pekerja Di Berbagai Negara

Worker cooperative sebenarnya memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang. Gagasan pendirian worker cooperative muncul pertama kali  di Amerika Serikat untuk memecahkan permasalahan ketidakberdayaan kaum pekerja pada industri-industri yang bekerja dengan sistem kapitalisme.

Melalui perusahaan yang dibangun sebagai worker cooperative,  para pekerja akan dapat mengatur secara lebih rasional upah atau gaji, yang diharapkan akan menjadi lebih baik dari pada yang dijalankan oleh sistem kapitalis,  di mana gaji pekerja ditentukan secara sepihak oleh para majikan.

Bermula pada tahun 1791, sewaktu perusahaan “Philadelphia’s Journeymen Carpenters” didirikan sebagai sebuah worker cooperative pertama di Amerika Serikat. Seratus tahun kemudian, perjuangan para pekerja untuk melawan sistem penggajian kapitalis di Amerika menghasilkan lahirnya 130 perusahaan yang terinspirasi oleh konsep worker cooperative.

Akan tetapi perkembangan perusahaan-perusahaan worker cooperative di Amerika  pada phase selanjutnya mengalami pasang surut karena semangat untuk menjadi kapitalis-kapitalis kecil  tumbuh di kalangan para anggota koperasi, setelah perusahaan berjalan dan berkembang.

Banyak perusahaan-perusahaan yang semula dibangun sebagai worker cooperative berubah status menjadi perusahaan biasa, disebabkan para pekerja yang juga pemilik perusahaan koperasi, mulai malas bekerja, dan merekrut pekerja-pekerja baru untuk menggantikan posisi mereka, namun hanya dengan status sebagai buruh biasa.

Namun, semangat untuk membangun badan-badan usaha yang beroperasi dengan konsep worker cooperative tidak pernah padam. Fenomena yang unik dan menarik  dari perkembangan worker cooperative muncul dari Spanyol, yaitu dari  Mondragon. sebuah kawasan industri di balik pegunungan kecil yang mengelilingi kota Basque, Spanyol.

Di Mondragon, dalam jangka waktu hanya seperempat abad, telah lahir satu grup perusahaan worker cooperative yang terdiri dari 85 perusahaan industri yang memproduksi berbagai jenis produk teknologi tinggi (antara lain bus, robot, lemari pendingin, dan kompor gas),  6 perusahaan agribisnis dan 14 perusahaan perumahan.

Perusahaan-perusahaan worker cooperative tersebut mampu membuktikan lebih produktif dan dapat memberikan kehidupan serta jaminan sosial  yang lebih baik kepada para pekerjanya dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan sejenis yang bukan koperasi.

Dalam rangka membangun kawasan perkoperasian Mondragon,  pemerintah Spanyol memberikan insentif yang sangat menarik,  dengan menyediakan 12,5 sampai 20% dari modal yang dibutuhkan koperasi-koperasi yang baru didirikan,  75% disediakan oleh the Caja Laboral Popular (bank).

Sehingga modal sendiri yang harus disediakan anggota koperasi hanya berkisar antara 5 sampai 12,5% saja dari keseluruhan modal yang diperlukan koperasi untuk memulai kegiatan usaha.

Selain itu, pemerintah juga memberikan pembebasan pajak selama 10 tahun,  dan setelah itu  memberikan keringanan pajak sampai 50% dari ketentuan yang berlaku.

Download Aplikasi Koperasi Simpan Pinjam Coba Gratis, Klik Disini !!

Pelajaran penting dari Mondragon adalah

  • Pertama Para Pekerja Dapat Menjadi Sumber Modal Untuk Pengembangan Perusahaan. Koperasi-koperasi di Mondragon menekankan perlunya para anggota koperasi untuk menanamkan sebagian gaji mereka dan SHU yang menjadi bagian mereka untuk usaha-usaha baru yang sedang dikembangkan oleh perusahaan. Untuk itu upah para pekerja dipotong langsung setiap kali gajian. Demikian pula, setiap tahun,  SHU mereka dipotong langsung sesuai kesepakatan.  Dengan cara demikian, para pekerja memberikan kontribusi secara langsung dalam meningkatkan permodalan koperasi untuk menambah jenis produksi, meningkatkan volume produksi, atau meningkatkan teknologi produksi guna menghasilkan produk yang lebih baik.
  • Dan yang kedua adalah bahwa perusahaan-perusahaan industri worker cooperative hanya akan berhasil dengan baik jika di-set up dalam kesatuan “hutan  yang terdiri dari pohon-pohon  yang saling mendukung” (a mutually supportive forest),bukannya terdiri dari pohon-pohon yang terisolasi dan tidak saling berhubungan.  Hal itu diwujudkan dalam bentuk kerjasama sebagai satu jaringan perusahaan melalui “co-production” dan “co-marketing”,serta menumbuhkan organisasi-organisasi untuk menyediakan bantuan dalam merumuskan format sistem keuangan,  bisnis,  hukum,  dan pendidikan bagi pekerja.

Keberhasilan worker cooperative di Spanyol tersebut menjadi bahan bakar bagi lahirnya gelombang baru worker cooperative di Amerika. Pada 1975, telah didirikan FEDO (Funding and Educational Development Organization), yang bertujuan memsupport pendirian perusahaan-perusahaan yang bertumpu pada semangat partisipasi secara demokratis dan kepemilikan perusahaan oleh pekerja.

Pada saat ini, di Amerika Serikat telah tumbuh sekitar 200 perusahaan yang beroperasi sebagai worker cooperative. Hasil capaian pengembangan koperasi pekerja tersebut masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan yang telah berhasil dilakukan di Kanada.

Di satu propinsi saja, yaitu Quebec, jumlah perusahaan yang beroperasi sebagai koperasi pekerja mencapai lebih dari 400 perusahaan.

Dan Bagaimana Sejarah Koperasi Pekerja Di Indonesia?

Melihat sejarah perjalanan worker cooperative di berbagai negara menjadi agak aneh kenapa jenis koperasi ini justru tidak dikenal di Indonesia. Konsep model worker cooperative sebenarnya pernah diperkenalkan kepada masyarakat gerakan koperasi oleh Yayasan FORMASI pada 1998, bekerjasama dengan Canadian Cooperative Association (CCA) melalui sebuah lokakarya, dengan menghadirkan pakar  dan praktisi worker cooperative dari Kanada.

Namun ternyata animo kalangan penggiat koperasi di Indonesia untuk menumbuhkan jenis koperasi ini sangat kurang.  Belakangan,  konsep worker cooperative ini diperkenalkan pula oleh LSPI melalui seminar dan penerbitan buku.

Meskipun demikian, selain sebagai intrumen perjuangan kaum pekerja untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak di tengah sistem kapitalisme di negara-negara Barat,  konsep model worker cooperative sebenarnya sangat tepat dijalankan di Indonesia. Worker cooperative dapat menjadi suatu solusi untuk memecahkan masalah pengangguran yang sedemikian besar, sebagai akibat dari krisis ekonomi yang belum juga pulih.

Dengan pengertian  “perusahaan-perusahaan yang dijalankan dengan prinsip koperasi,  di mana anggotanya menjadi pemilik, pengelola dan sekaligus pekerja pada perusahaan tersebut”, maka sebenarnya seluruh lapangan usaha dapat dijalankan melalui jenis koperasi  worker cooperative ini.

Persyaratan dasar keanggotaan dari sebuah worker cooperative adalah anggota koperasi haruslah pekerja pada badan usaha koperasi tersebut dan tidak boleh ada orang luar yang bukan pekerja yang menjadi anggota sebuah koperasi pekerja. Seluruh pekerja, termasuk direktur dan para manajer menjadi anggota koperasi.

Pada dasarnya seluruh  usaha ekonomi dapat dijalankan sebagai usaha bersama dalam bentuk worker coperative, baik di bidang industri, perdagangan maupun jasa.  Di sektor industri misalnya, dapat dimulai dalam bentuk worker cooperative usaha-usaha industri skala kecil.

Sekumpulan pekerja yang memiliki ketrampilan tertentu bergabung mendirikan perusahaan industri sebagai worker cooperative yang sesuai dengan bidang keahlian dan ketrampilan kerja yang mereka miliki, sehingga melahirkan perusahaan-perusahan  industri worker cooperative di berbagai jenis usaha industri, seperti garmen,  kulit,  sepatu,  mebel,  aneka barang-barang kerajinan,  dan sebagainya.

Demikian pula halnya pada sektor pertanian, berbagai usaha pertanian yang dijalankan sebagai perusahaan agribisnis sebenarnya dapat ditumbuhkan dalam bentuk worker cooperative. Daripada diusahakan sendiri dengan segala keterbatasan, para petani tentunya lebih baik bergabung mendirikan worker cooperative agribisnis, sehingga memungkinkan mereka menjalankan usaha pertanian atau peternakan secara lebih intensif dengan teknik budidaya yang lebih maju.

Berbagai pilihan bidang usaha agribisnis yang sangat banyak dapat dijalankan melalui model worker cooperative seperti tanaman hias, sayur mayur, tanaman buah yang cepat menghasilkan, usaha peternakan unggas, penggemukan/ pembesaran sapi dan kambing, budidaya rumput laut,  budidaya perikanan darat atau perikanan laut  dengan sistem keramba, dan sebagainya.

Begitu pula di bidang jasa, sangat banyak kegiatan usaha yang dapat digarap melalui worker cooperative. Para professional di berbagai bidang keahliaan dapat berhimpun mendirikan worker cooperative dalam bentuk perusahaan konsultan (manajemen, teknik, hukum), akuntan publik, dan sebagainya sebagai badan usaha milik bersama, di mana mereka sekaligus menjadi tenaga professional pada perusahaan itu.

Sedangkan pada tingkat yang lebih rendah,  tenaga kerja yang memiliki keahlian di bidang usaha jasa tertentu dapat berhimpun mendirikan perusahaan milik bersama di mana mereka menjadi pekerjanya,  seperti usaha laundry,  babershop,  tailor,  cleaning service,  security  dan sebagainya.  Di berbagai negara terdapat pula suatu jenis usaha worker cooperative yang bergerak pada penyiapan dan penyaluran tenaga kerja, seperti baby sitter, eldery sitter (perawatan lansia), pembantu rumahtangga,  pramuniaga di supermarket, tenaga tukang untuk perbaikan rumah dan sebagainya.

Download Aplikasi Koperasi Simpan Pinjam Coba Gratis, Klik Disini !!

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *